Sosialisasi Model Pembelajaran TEFA

Posted by: Karyadi | 03/01/2020 | Kategori: Penelitian | 57 kali dibaca | Rating: 97

A. Pengertian

Teaching factory dapat didefinisikan sebagai model pembelajaranberbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dengan DUDI untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar. Model pembelajaran berbasis industri berarti bahwa setiap produk praktik yang dihasilkan adalah sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomi atau daya jual dan diterima oleh pasar. Sinergi antara SMK dengan industri merupakan elemen kunci sukses utama dalam teaching factory, dimanaTeaching factory akan menjadi sarana penghubung untuk kerjasama antara sekolah dan industry

B. Tujuan

Meningkatkan kesiapan kerja, menyelaraskan kompetensi dan membangun berkarakter kerja lulusan SMK sesuai tuntutan dunia Usaha dan Industri (DUDI) melalui proses pembelajaran berbasis produk/jasa (rekayasa Perangkat Pembelajaran) yang diselenggrakan di lingkungan, suasana, tatakelola dan aturan standar DUDI atau tempat kerja/usaha sebenarnya

C. Prinsip TEFA

  1. Perangkat pembelajaran dirancang berbasis produk/jasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya.
  2. Siswa terlibat sepenuhnya secara langsung dalam proses pembelajaran berbasis produksi, sehingga kompetensi siswa terbangun melalui pengalaman pribadi dalam membuat, mengerjakan dan atau menyelesaikan produk/jasa berdasarkan standar, aturan dan norma-norma kerja di DUDI.
  3. Sesuai dengan tingkatannya, perangkat pembelajaran dirancang dengan berorientasi pada pembuatan produk/jasa sesuai faktor psikologi peserta didiknya (CBT – PBT) sehingga mampu meningkatkan kompetensi, meningkatkan kesiapan kerja dan membangung karakter kerja serta peserta didik sesuai kebutuhan DUDI.
  4. Sertifikasi kompetensi siswa dapat atau dimungkinkan dirterbitkan disetiap tingkatan kompetensinya sesuai dengan produk/jasa yang telah diselesaikan.
  5. Fungsi dan keberadaan semua sumber daya sekolah dari fasilitas, tenaga pengajar, staff, bahan dan tatakelola dikondisikan/difungsikan untuk membangun lingkungan dan suasana DUDI atau tempat kerja/usaha yang sebenarnya.
  6. Pelaksanaan kegiatan produksi atau layanan jasa bersifat nirlaba/non-profit karena merupakan bagian dari proses pembelajaran TeFa yang dilakukan oleh siswa.
  7. Pemanfaatan produk/jasa pembelajaran berbasis TeFa dilakukan sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.

D. Ciri SMK Dengan Model Pembelajaran TeFa

  1. Produk baik barang maupun jasa selaras dengan kompetensi keahlian dan dibutuhkan masyarakat pada umumnya, dibuat oleh siswa dengan kualitas standard DUDI (mutu, proses, waktu pengerjaannya), layak pakai dan jual.
  2. Pengerjaan dan penyelesaian pembuatan barang atau jasa seluruhnya telah menggunakan perangkat pembelajaran yang dirancang khusus untuk pembelajaran model TeFa (silabus, RPP, Instrument penilaian, Lembar pembelajaran dan Jadwal blok).
  3. Worksop/ruang praktek/bengkel/lahan untuk melaksanakan model pembelajaran TeFa telah dikondisikan sesuai dengan standar DUDI atau tempat kerja/usaha sebenarnya termasuk lingkungan, suasana, tatakelola dan aturannya (SOP).
  4. Adanya organisasi dan sistem manajemen produksi (analisa produk, proses, evaluasi, pengembangan/inovasi produk dan penyimpanan/pemanfaatan produksi baik barang maupun jasa) internal maupun eksternal memenuhi kebutuhan masyarakat.
  5. Mempunyai sistem atau tata kelola pemanfaatan produk baik barang maupun jasa (outlet, business center, show room, pemasaran daring/online atau strategi lainnya.
  6. Bermitra atau berpartner kerja dengan DUDI yang sesuai dengan kompetensi keahlian TeFa.

 

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Sosialisasi Model Pembelajaran TEFA

by: Karyadi | 03 January 2020

POST TERBARU

Sosialisasi Model Pembelajaran TEFA

by: Karyadi | 03 January 2020